Ada makanan bebek

Seekor Bebek pergi ke warung dan bertanya,”Ada makanan Bebek?”
Tukang warung bilang,”Tidak ada.” Bebek bilang “Iya deh……” lalu pergi. Besoknya, Bebek itu kewarung lagi dan bertanya, “Ada makanan Bebek?” Tukang warung bilang tidak ada dan Bebek itu pergi.
Besoknya lagi, Bebek itu kewarung lagi dan bertanya,”Ada makanan Bebek?” Tukang warung bilang, “Saya sudah bilang dua kali, saya tidak menjual makanan Bebek, dan tidak akan pernah menjualnya. Jika kamu tanya lagi, akan saya paku kaki kamu ke lantai.” lalu Bebek itu pergi.
Besoknya Bebek itu datang lagi kewarung dan bertanya,”Ada Paku?”
“Tidak ada.” Dan bebek itu bertanya lagi, “Ada makanan Bebek?”

Advertisements

Kekaguman Seorang Suami

Suatu malam asti (bukan nama sebenarnya) terbangun dan melihat suaminya sedang berdiri di sisi Boks bayi mereka.
asti belum pernah melihat ekspresi wajah suaminya seperti itu sebelumnya. Kadang-kadang tersenyum sambil menggelengkan-gelengkan kepala,tampak
kagum…,  lalu seperti terharu,  terus menarik nafas panjang dan seterusnya.
Diam-diam air mata menetes di kedua mata asti. Ia tak menyangka suaminya akan mengagumi bayi mereka seperti itu. asti menghampiri suaminya, memeluknya dan setengah memancing bertanya,
“Mas, apa sih yang Mas pikirkan?”
“Ini…, aku benar-benar nggak habis pikir, boks begini ini aja kok harganya sampai tiga juta.”
Asti: “%^@*$%^$%!!”

Black Man

What’s wrong with differences ?

A black man walks into a cafe one morning and noticed
that he was the only black man there.
As he sat down, a white man behind him said, “Colored
people are not allowed here…”
The black man turned around, stood up and said,
“When I was born I was black.”
“When I grew up I was black.”
“When I’m sick I’m black.”
“When I go in the sun I’m black.”
“When I’m cold I’m black.”
“When I die I’ll be black.”
“But you …”
“When you’re born you’re pink.”
“When you grow up you’re white.”
“When you’re sick, you’re green.”
“When you go in the sun you turn red.”
“When you’re cold you turn blue.”
“And when you die you turn purple.”
“And you have the nerve to call me colored!”
The black man then sat back and the white man walked
away…

The Ballad of the losers

The Ballad of the Losers (The Defeated)


maybe we are just tired after centuries of debates

to see the tree and mountain fall down one by one

valley and river are full of stones

and the rain that is reluctant to come to the ground

maybe we are just tired after centuries of anger

to see the river and sea blackened because of spilled oil

the big fishing boat that continuously spread its net

forces away the fishermen’s boats to the [shallow] coastal waters

maybe we are just tired, losing energy

to breath the smog from the cars that fills6

the air

the bad smell from scattered garbage

the clogged up ditch in all over the city

maybe we are just tired and almost giving up

to the law of the nature that has begun to change

maybe we are just tired because the rays from the fire starts to dim

blown by the strong wind without any barriers

maybe we are just tired because we are tired

all out of energy all out of blood [=bled dry]

Barangkali kita cuma lelah setelah berabad berdebat

melihat pohon dan gunung bertumbangan satu-satu

lembah dan kali bertumpukan batu-batu

dan hujan yang enggan turun ke tanah

barangkali kita cuma lelah setelah berabad marah

melihat sungai dan laut menghitam oleh oli tumpah

kapal ikan yang tak henti menebar jala

mengusir perahu-perahu nelayan ke tepian

barangkali kita cuma lelah kehabisan daya

menghirup asap mobil yang memadati udara

bau busuk menyengat dari sampah berserakan

parit mampat di seluruh pelosok kota

barangkali kita lelah hampir menyerah

pada hukum alam yang mulai berubah

barangkali kita lelah karena cahaya api telah padam

dihembus angin kencang tanpa halangan

barangkali kita lelah karena kita sudah lelah

kehabisan tenaga kehabisan darah

(Taufik Ismail)

Nelayan Jepang

Orang Jepang sejak lama menyukai ikan segar. Tetapi tidak banyak ikan
yang tersedia di perairan yang dekat dengan Jepang dalam beberapa244983541_4b3f9cced0
dekade ini. Jadi untuk memberi makan populasi Jepang, kapal-kapal
penangkap ikan bertambah lebih besar dari sebelumnya. Semakin jauh
para nelayan pergi, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk membawa
hasil tangkapan itu ke daratan. Jika perjalanan pulang mencapai
beberapa hari, ikan tersebut tidak segar lagi. Orang Jepang tidak
menyukai rasanya. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan perikanan
memasang freezer di kapal mereka. Mereka akan menangkap ikan dan
langsung membekukannya di laut.

Freezer memungkinkan kapal-kapal nelayan untuk pergi semakin jauh dan
lama. Namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan rasa antara ikan
segar dan beku, dan mereka tidak menyukai ikan beku. Ikan beku
harganya menjadi lebih murah. Sehingga perusahaan perikanan memasang
tangki-tangki penyimpan ikan di kapal mereka. Para nelayan akan
menangkap ikan dan langsung menjejalkannya ke dalam tangki hingga
berdempet-dempetan. Setelah selama beberapa saat saling bertabrakan,
ikan-ikan tersebut berhenti bergerak. Mereka kelelahan dan lemas,
tetapi tetap hidup. Namun, orang Jepang masih tetap dapat merasakan
perbedaannya. Karena ikan tadi tidak bergerak selama berhari-hari,
mereka kehilangan rasa ikan segarnya. Orang Jepang menghendaki rasa
ikan segar yang lincah, bukan ikan yang lemas.

Bagaimanakan perusahaan perikanan Jepang mengatasi masalah ini?
Bagaimana mereka membawa ikan dengan rasa segar ke Jepang?

Jika anda menjadi konsultan bagi industri perikanan, apakah yang anda
rekomendasikan?

Begitu anda mencapai tujuan-tujuan anda, seperti mendapatkan jodoh –
memulai perusahaan yang sukses – membayar hutang-hutang anda – atau
apapun, anda dapat kehilangan gairah anda. Anda tidak perlu bekerja
demikian keras sehingga anda bersantai. Anda mengalami masalah yang
sama dengan para pemenang lotere yang menghabiskan uang mereka,
pewaris kekayaan yang tidak pernah tumbuh dewasa, dan para ibu rumah
tangga
jemu yang kecanduan obat-obatan resep.

Seperti masalah ikan di Jepang tadi, solusi terbaiknya sederhana. Hal
ini diamati oleh L. Ron Hubbard di awal 1950-an. “Orang berkembang,
anehnya, hanya dalam kondisi lingkungan yang menantang” -L. Ron
Hubbard.

Keuntungan dari sebuah Tantangan:

Semakin cerdas, tabah dan kompeten diri anda, semakin anda menikmati
masalah yang rumit. Jika takarannya pas, dan anda terus menaklukan
tantangan tersebut, anda akan bahagia. Anda akan memikirkan tantangan-
tantangan tersebut dan merasa bersemangat. Anda tertarik untuk
mencoba solusi-solusi baru. Anda senang. Anda hidup!

Bagaimana Ikan Jepang Tetap Segar?

Untuk menjaga agar rasa ikan tersebut tetap segar, perusahaan
perikanan Jepang tetap menyimpan ikan di dalam tangki. Tetapi kini
mereka memasukkan seekor ikan hiu kecil ke dalam masing-masing
tangki. Memang ikan hiu memakan sedikit ikan, tetapi kebanyakan ikan
sampai dalam kondisi yang sangat hidup. Ikan-ikan tersebut tertantang.

Renungan :

Jangan menghindari tantangan, melompatlah ke dalamnya dan
taklukanlah. Nikmatilah permainannya.

Jika tantangan anda terlalu besar atau terlalu banyak, jangan
menyerah. Kegagalan jangan membuat anda lelah, sebaliknya, atur
kembali strategi. Temukanlah lebih banyak keteguhan, pengetahuan, dan
bantuan.

Jika anda telah mencapai tujuan anda, rencanakanlah tujuan yang lebih
besar lagi. Begitu kebutuhan pribadi atau keluarga anda terpenuhi,
berpindahlah ke tujuan untuk kelompok anda, masyarakat, bahkan umat
manusia.

Jangan ciptakan kesuksesan dan tidur di dalamnya. Anda memiliki
sumber daya, keahlian, dan kemampuan untuk membuat perubahan.

Jadi, masukkanlah seekor ikan hiu di tangki anda dan lihat berapa
jauh yang dapat anda lakukan dan capai !

Untukmu

cinta2

Untuk ku dan untuk mu dan untuk dia, siapapun yang menghajatkan cinta menjadi suluh bagi hatinya

Adakah cinta tiada menerangi langit jiwa ?

Saat getar pancarnya mengalami penguatan beribu-ribu kilovolt dari semula. Suluhnya menguak sudut-sudut rumah hati hingga terang benderang.  Satu-satu ruang kosong yang dahulu sunyi senyap mulai terisi. Cahaya itu merembas dan menerawang hingga ke langit. Yaa langit hati kita. Pernak-pernik hari yang dahulu terbuang saat hari itu pergi. mulai ku-kais-kais kembali. sepertinya sejak hari ini sudah saatnya merawat dan menyimpan semua kenangan hari. Khususnya hari-hari yang pernah yang kumiliki bersamamu. Aku berjanji akan kubungkus dalam kertas tisu rapi atau kususun dalam peti.  Agar saat usia merenta nanti. Kita kan simak kembali. Butir-butir komitmen aku, kamu, dan Allah. Menyegarkan ingatan dan orientasi pertemuan kita. Sejak saat pertama.

Adakah cinta yang tiada mengusung luka?

Butir utama cinta adalah pengorbanan. Anak tunggal dari kesetiaan

Bukan cinta namanya tanpa pengorbanan. itu nafsu…

Cinta telah membuatnya lelah. Tampak kusut, lusuh dan berdebu. Untuk itu ia perlu disegarkan kembali. Hari-harinya bukan lagi miliknya, tapi adalah milik kekasihnya. Ia belanjakan waktu, harta yang dipunya, bahkan selembar nyawa, miliknya. Agar kekasihnya tersenyum dan bahagia.

Entah kapan terakhir kali ruang itu tersentuh percik air dan kain basah. Yang jelas dentumnya kian mengeras. keras..lebih keras..makin keras.. Hingga seluruh dunia terdiam..Terhentak dari ritual rutinitas materi dan mulai mendengar halus lembut hati yang bertutur santun. Perih dan terluka, hanyalah bagian logis dari ritual cinta. Ia tidak lagi menjadi hantu yang menakutkan, tapi belaian lembut dan bisikan halus bidadari syurga. yg tersenyum manja.

Bukti paling nyata keberhasilan cinta adalah menampaknya perasaan dan wajah gembira. Sangat gembira. Saat kekasihnya memutuskan untuk bersamanya. Gembiranya adalah milik seorang buta yang mendadak melihat dunia. Milik seorang lumpuh yang mendadak dapat berjalan sempurna, milik seorang pesakitan tervonis mati, kemudian mendapati pengampunan. rasa itu kan selalu ada. rasa gembira…rasa cinta…

Catatan kecil

Kurniawan, H

Tuhan sembilan centi

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-‘ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.